Pengembangan Jakabaring awalnya hanya stadion sepak bola yang menjadi kandang klub sepak bola kebanggaan kota Palembang yaitu Sriwijaya FC. Berikutnya tempat ini kemudian diarahkan menjadi kawasan olah raga terpadu Provinsi Sumatera Selatan.
Stadion Jakabaring dibangun tahun 2001,
saat itu untuk mempersiapkan diri menyambut PON ke-16 tahun 2004.
Stadion Jakabaring juga dikenal dengan sebutan Stadion Gelora Sriwijaya.
Sebagai stadion terbesar ke-3 di Indonesia, Jakabaring dapat menampung
40.000 orang. Stadion ini mengiringi kebesaran Komplek Gelora Bung Karno.
Dengan atap berwarna biru mengkilap berupa pelengkung atau arch
yang dibina di tepi barat dan timurnya, Jakabaring nampak begitu megah
ditopang pilar-pilar berwarna merah pudar dimana diantaranya terdapat
dinding berhias pola ukiran tradisional Palembang. Melihat kota
Palembang dari ketinggian di malam hari akan menampilkan lakuk lampu
pijar Jembatan Ampera yang menyebrangi Sungai Musi.
Di sekitar stadion sepak bola ini,
dibina pula beberapa kompleks kegiatan olah raga yang dipertandingkan di
SEA Games 2011. Beberapa sarana tersebut adalah aquatic center, lapang
tembak, dan wisma atlet untuk atlit. Ada pula pusat olah raga senam,
badminton, squash, softball dan baseball, arena panjat dinding, jalur
pacu sepatu roda, pusat latihan sepak bola.
Selain itu juga ada Danau Jakabaring
dimana atlit dapat berlatih dayung sekaligus berlomba di cabang olahraga
tersebut. Pengembangan kawasan ini juga akan dilanjutkan dengan
pembangunan lapangan golf, indoor stadion, lapang basket indoor, lapang
tenis, pusat olah raga air dan rekreasi air, jalur atletik, serta
fasilitas pendukung lainnya.
Tidak jauh sekitar satu kilometer dari
kompleks ini, tengah dibangun kawasan perumahan dan kawasan budaya yang
berupa bangunan untuk pentas kesenian dan pameran. Akan dibangun pula
Gedung Islamic Centre, Masjid Agung di Simpang Empat, terminal dan pasar
induk, serta pembangunan Jembatan Musi 3 yang akan menjadi penyangga transportasi kota Palembang.
Menuju Jakabaring tak begitu sulit, karena dengan menyusuri jalan Jenderal Sudirman dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II
yang merupakan salah satu jalan terpadat di Palembang, Anda akan sampai
di Jakabaring yang terletak di jantung kota Palembang. Gunakanlah taksi
yang banyak tersedia di bandara.
Istilah Nama Jakabaring
Jakabaring adalah sebuah singkatan dari
warga pendatang yang membentuk satu komunitas di kawasan Seberang Ulu
antara 8 Ulu Bungaran dan Silaberanti. Warga tersebut datang dari Jawa,
Kaba (Lekipali), Batak (Sumut), Komering Ilir, Komering Ulu dan Lampung.
Istilah penamaan ini dikenalkan oleh Sersan Mayor Inf Tjik Umar,
anggota TNI yang pernah bertugas di Kodam II Sriwijaya. Dia adalah warga
Lampung
yang membangun rumah di dalam hutan belukar berawa dibelakang Markas
Poltabes Palembang sekarang. Saat itu kawasan Jakabaring masih hutan
belukar dan berawa. Tjik Umar membangun rumah dengan menimbun rawa di
sana. Hingga sekarang rumah tersebut masih lengkap dan menjadi saksi
sejarah asal usul nama Jakabaring.
Tjik Umar melakukan penelitian dan
mendapati asal warga di sana ada dari Jawa, Batak (Sumut), Kaba
(Lekipali), Komering Ilir, Komering Ulu dan Lampung. Menurut pemaparan
penduduk setempat yang pernah tinggal di kawasan tersebut bahwa kata
Jawa disingkatnya menjadi Ja. Kaba (Lekipali) disingkat Ka. Batak Sumut disingkat Ba, dan Komering Ilir dan Komering Ulu disingkat Ring. Dari singkatan Ja, Ka, Ba, Ring lalu digabung menjadi Jakabaring.Hari jadi terbentuknya kawasan Jakabaring ditetapkan tanggal 26 April 1972.